(Waktu) Ombak Yang Menggulung Dalam Hati



Layaknya teka-teki yang diliputi hawa penasaran yang kuat, layaknya sebuah novel yang memberi kejutan ditiap lembarnya. semua pertanyaan yang belum terjawab, semua teka-teki yang belum terungkap, semuanya yang masih menjadi rahasia, semuanya masih tersimpan hingga waktu pun telah siap. ombak kebimbangan sering menghampiri melaju dalam kecepatan yang tak menentu, kadang ia ada kadang-pun tidak. angin semilir berbisik lewat pasir yang terhembus angin bersama tarian pepohon, membelai rambut seakan aku tersentuh dan membuat mata air ku sendiri, tak sanggup untuk mengadahkan kepala terasa beban ku semakin berat.

Aku tersiksa oleh pikiranku, oleh penyakit yang aku cari, oleh pendapat yang aku hasilkan sendiri, oleh keputusan yang aku buat sendiri. aku menyakiti hati-ku sendiri. padahal baru saja aku tarik simpul senyumku beserta tawa renyah akan hal yang aku senangi, tapi seketika aku runtuhkan oleh hal bodoh yang aku ciptakan.


kamu adalah pikiranmu.. kata itu terlintas seperti sebuah hal yang sudah lama ingin aku lakukan.

Ratusan kali aku pernah rasakan, bukan sekali atau pun dua kali dalam hembusan nafas yang aku keluarkan dan hirup, tapi ratusan kali pula mendapatkan solusi dan terjatuh lagi, ratusan kali terbebas tapi tetap terbelenggu, ratusan kali bisa menghadapi tapi tetap kalah. Tidak..! aku ini pemenang ucapku sesering kali ketika aku mulai bisa berdiri setelah luka. tapi, aku juga tak bisa sendiri. Tidak..! aku tetap sendiri untuk melewati rintangan yang aku buat, bagaimana bisa seorang pembuat permainan tapi tak mengerti cara untuk sampai pada garis finish. dan ratusan kali aku sampai finish, akan tetapi permainan terus berlanjut. ternyata aku salah ini bukan finish, hanya akhir dari level sebuah permainan dan akan terus berlanjut, seperti pepohonan yang semakin tinggi, semakin besar untuknya terombang-ambing oleh tiupan mesra angin.

Menjadi acuh tak acuh hanya untuk memprotek diri, mengurangi rasa ingin tahu dan lebih memilih apa yang harus diketahui, menyadari bahwa terkadang kita cukup tersenyum manis dengan menutup mata dan telinga, menilai semua dari hati. membuat perasaan lebih peka tapi sesekali menjadi terlalu perasa.

Kapan tiba waktunya aku menembak sebuah bintang yang nanti aku sematkan pada ruangan terindah, yang nanti akan menjadi satu-satunya penerang ketika malam datang, yang nanti akan menjadi satu-satunya hiasan tak ternilai yang aku miliki, yang nanti akan menjadi satu-satunya hal yang aku ingat ketika membuka mata, yang menjadi satu-satunya alasan aku menangis ketika ia hilang dari pandangaku.

Dan angin berbisik samar bersama debu yang ikut tertelan olehnya, Waktu..!
semakin aku berusaha mengejar ia semakin menjauh dan penuh teka-teki rumit, Waktu..!
semakin aku berlari berlaku curang untuk meraihnya dan ia pun hilang, Waktu..!
ia terus berbisik, dan aku menertawakan diriku sendiri..
akan tiba pada Waktu nya buat apa kau melelahkan dirimu.


*sebuah catatan pengingat untuk terus berharap, bahwa akan tiba saatnya atas apa yang telah DIA rencakan dengan indah, klise memang. sehingga tercipta teori sampah yang di tanamkan bahwa Waktu yang akan menjawabnya, itu hanya-lah sebuah kejujuran yang tertunda. jadi buat apa kau melelahkan dirimu, jika ini adalah sebuah permainan maka mainkanlah dengan cerdas, mainkalah dengan bijak dan jadilah pemenang. 

mungkin mata mu bisa tertipu dari muslihat yang kasat mata maupun terlihat, dan mungkin telinga bisa salah mendengar atau bahkan sama sekali tidak mendengar. tapi suara hati tak akan pernah salah untuk melihat dan mendengar. coba untuk rasakan, lihat dan dengarkan. bersahabat dengan diri sendiri dan menyelami kedalam batin suara hati.


Waktu akan menjawabnya, heemm tidak..
semua akan ada saatnya, saat aku siap nanti.
dan aku siap (sekarang).

Label: ,