Keluarga yang seperti apa...

Malam itu, disudut kiri dekat jendela ada sekumpulan orang dengan berbagai usia sedang asik menyantap sajian disela perbincangan hangat yang mengundang tawa renyah. malam itu.. kehangatan mereka menukik seseorang yang memperhatikan jauh dari sudut berbeda. mereka menyebut dirinya "Keluarga".


Keluarga, merupakan satu kesatuan yang harus saling menjaga satu sama lain, terasa keharmonisannya. bukan tentang diam seribu bahasa, membiarkannya goyang tanpa arah, suara-suara dengan nada tak pantas, tapi saling tercurahkan perhatian, kepedulian dan kasih sayang satu sama lain. saling memahami sinyal-sinyal yang terpancar, mengerti kode kasih yang diberikan. karena keluarga dalam ragam karakter terbangun pada satu tempat. 

Saya pernah baca salah satu artikel mengenai "Mau di bawa kemana keluarga kita" dimana membahas ada 4 tipe keluarga yang membuat saya membacanya miris bahkan ingin menangis, takut.., takut-takut tidak bisa merubah dan terlambat habbit yang terbentuk. tapi kelak menjadi pembelajaran, ketika nanti akan mengarungi sebuah rumah tangga yang menciptakan keluarga. 

- Keluarga tipe terminal 
Seperti halnya terminal, rumah ibarat tempat transit dan orang yang betah ditempat-nya hanya penjaga terminal. anggota keluarga hanya berkomunikasi sekedar basa-basi, pertanyaan-pertanyaan standar hanya dilontarkan dengan jawaban biasa. ketika masalah datang-pun tak ada pembahasan untuk diselesaikan bersama, tetapi disimpan dan dibiarkan hingga bom waktu tiba. kemudian lari tanpa ada solusi. sedih gak sih.. kalau punya keluarga tipe terminal, berasa gak punya keluarga dan melampiaskannya ke tempat lain, mencari kehangatan di tempat lain. salah-salah pilih teman bisa jadi malah terjerumus pergaulan yang gak baik.

- Keluarga tipe kuburan
Irit suara, tanpa ada pembahasan menarik meski hati ingin bercerita. tanpa sadar tercipta suasana tidak nyaman dan lebih memilih diam menghasilkan diri menjadi pribadi yang tertutup. bercanda ria dengan orang tua pun terasa kaku bagai bicara dengan patung, mempunyai perasaan yang takut sama halnya ketika ketemu polisi gara-gara masuk jalur busway.

- Keluarga tipe rumah sakit
dirumah sakit ada dokter dan pasien. masing-masing merasa paling jasa. tanpa ada dokter, pasien tidak akan sembuh. tanpa ada pasien, dokter gak akan punya duit. padahal dua-dua nya adalah mutualism simbiolisme (saling menguntungkan). seperti halnya sebuah keluarga, jikalau suami merasa telah berjasa memenuhi kebutuhan rumah tangga akan tetapi istri merasa lebih berjasa telah mengurus rumah, mengasuh anak. orang tua berjasa telah mendidik anak, tetapi anak merasa telah berjasa telah melengkapi keluarga, ketika ayah dan ibunya dinyatakan mandul. 
padahal dalam keluarga itu mempunyai porsi dan peranannya masing-masing, tiada ada yang saling dirugikan justru saling menguntungkan satu sama lain, apabila satu pincang maka pincanglah semua. 

- Keluarga tipe pabrik
mekanisme dalam suatu pabrik, atasan ingin agar produksi lebih cepat dan mencapai target. sedangkan bawahan ingin gaji dan fasilitas mereka terpenuhi. kata kunci yang menjadi jurus andalan keluarga tipe pabrik "Pokoknya..." . ketika prestasi anak menurun, suami menyalahkan istri dan menganggap tidak becus urus anak. dan istri menyalahkan suami ketika tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga, karena menganggap suami tidak becus cari nafkah. kalo keluarga dalam suasana tipe pabrik pasti gak ada pengertian satu sama lain, gak ada masalah yang bisa dibicarakan dengan baik-baik, semua mengandalkan ego masing-masing, merasa paling berkorban. dan yang terpenting tiada kata "syukur" yang menghiasi keluarga tersebut. 

Keluarga tipe diatas akan membentuk anak menjadi anak yang kurang perhatian, kurang kasih sayang, tidak percaya diri dan tidak perduli. semua akan berdampak pada anak, pada generasi yang kita didik, yang seharusnya menjadi anak yang kuat dan tangguh. akan tetapi, habbit, sikap dan perilaku serta didikan yang membentuk menjadi anak yang lemah.

Mempunyai keluarga, tapi hanya sekedar keluarga. orang tua yang merasa bertanggung jawab atas masa depan anak akan tetapi memberi contoh nyata yang direkam oleh otak-nya, menanankan rasa tidak nyaman dan aman untuk anak. menjadikan perkembangan psikologis anak tidak baik. 

yaa bersyukurlah bagi yang mempunyai keluarga yang saling mengisi satu sama lain, saling menjaga dan kompak. karena banyak diluar sana ada keluarga tanpa harapan. dengan nama keluarga tapi tidak seperti keluarga. padahal mereka adalah satu kesatuan. baru sadar ketika penyesalan datang, syukur masih bisa diperbaiki. karena apapun itu tiada kata terlambat untuk memperbaiki hubungan yang sudah rusak.

dalam surat Ash-Shaf ayat 4 berbunyi :
" Keluarga laksana bangunan yang kokoh. menjadi tempat bernaung yang nyaman meski diluar terjadi badai angin topan"

Label: , , ,