Murahnya Yang Suka Selingkuh, Mahalnya Kesetiaan.

Dunia social media lagi rame tentang gadis muda nan cantik yang kemudian di poligami. Lewat sebuah pesan pendeknya di Instagram ternyata mampu menarik iba para netizen.

Tapi kali ini gw bukan mau sok-sok an bahas poligami. Nikmatnya kawin aja belum juga dikecup, dan belum tau enaknya setelah nikah, seranjang berdua semalam suntuk selamanya. Iyaa.. Janji selamanya yang di ikrarkan langsung kepada Tuhan dan di depan kedua orang tua dan bapak penghulu.

Katanya sedari lahir kita sudah ditakdirkan berpasang-pasangan. Walau menuju ikatan suci pun sering copot pasang dengan pasangan. Ribuan patah hati seolah mampu teryakinkan oleh ribuan hujanan kalimat rayuan dan janji manis. Sungguh terdengar indah bak negeri dongeng.

Tapi, apadaya.. Cuma terdengar indah dan terkecup manis ketika ijab kabul mulai di lantangkan.



Katanya janji setia..

Aaahh.. Lo kan belom nikah, sok-sok an gitu ngomongin beginian.

Gini yaa, bukan masalah udah menikah atau belum. Gw cuma menyayangkan ada begitu banyak janji suci yang di harus dipertanggung jawabkan dengan berat kepada Allah dan Kedua Orang Tua. Tapi, malah di-enteng-kan begitu saja.

Ada yang bilang bahwa jalan poligami adalah jalan benar daripada harus selingkuh. Masalah adil dan tidaknya, Insya Allah akan berlaku adil. 

Padahal seadil-adilnya ucapan yang barusan dikeluarkan. Tidak menjadi adil juga. Keputusan-pun sudah di-ketok palukan oleh diri sendiri.

Gw sendiri pernah punya pacar dengan orang tua yang poligami, beliau mempunyai 4 orang istri. Kalau ada kalimat pria di uji oleh semakin banyaknya uang yang ia punya, maka ketentuan tersebut bisa jadi berlaku oleh segelintir pria dengan iman tipis yang gampang robek.

Katanya daripada menimbulkan fitnah dan berbuat dosa, lebih baik dikawinin. Huh... 

Berawal dari ke-tidak- setiaan pada seorang pria, sempat membuat gw ragu sama anaknya. Pasalnya buah jatuh gak jauh dari pohonnya. Meski perselingkuhan serta poligami telah ditelan bulat-bulat oleh semua anaknya.

Asalkan kebutuhan anaknya terpenuhi.

Awalnya pepatah buah jatuh itu gw bantah sendiri dengan melihat dia yang benci dengan bapaknya yang berpoligami. Tapi, tidak selamanya benci menjadi bukti. Bukan berarti membenci orang tua itu gw setujukan.

Masalahnya diakhir cerita cinta yang kemudian mirip dengan lagu Glenn Fredly. Dia ketawan selingkuh dan berhasil jadian dengan 2 cewe lainnya sekaligus, bahasanya di-tiga-in.

Deuh..gak perlu lah dijelasin sakitnya gimana. Semua pernah rasakan patah hati. Artinya satu lagi bukti bahwa memang benar buah tidak jatuh dari pohonnya.

Demi menenangkan hati, Allah sedang menunjukkan bahwa dia bukanlah yang terbaik untuk gw. Daripada nanti setelah nikah baru ketawan udah nikah lagi, lebih sakiitt hati.

Tapi, dia hanya salah satu contoh dengan gen yang benar tentang ke-negativ-an sebuah pepatah dengan buah jatuh tersebut. Masih banyak buah jatuh lainnya yang tidak dekat dengan pohon busuk kok. Bahkan masih banyak pohon busuk yang menjatuhkan buah harum manis.

artinya tidak semuanya seperti itu.


Dan nyatanya, contoh tersebut bukan hanya dia aja. Mantan gw lainnya pun serupa. (dan mantan lainnya berkasus sama). Ibunya ditinggal begitu saja karena ayahnya yang mabuk kepayang dengan janda muda. 

Diakhiri dengan sebuah pernikahan anaknya yang juga berakibat, perselingkuhan didalamnya kemudian berakhir dengan perceraian juga.

Entah, ada banyak cerita perselingkuhan padahal sudah menikah disekitar gw. Yang membuat gw dengan emosi labil semakin tertindas. Menjadi orang yang penuh tekanan, Semakin membentuk diri menjadi temperamental, gampang baper, bahkan saking lelahnya menjadi orang yang tidak peduli akan lingkungan sekitar.

Lalu timbul benci, se-bencinya..

Tapi, akhirnya keadaan tersebut yang harus diterima.
Bukankah setiap orang akan berubah.

Gw cuma gak habis pikir. Ketika sudah mempunyai anak dan entah apakah terlalu merindukan kasih sayang, belaian masa muda serta haus perhatian dan merasa bosan serta UANG. Seolah udara segar dengan seseorang lainnya yang bukan muhrim menjadi hawa baru yang dimasukkan dalam pernikahan.

Secara tidak sadar itu sebuah duri yang pelan-pelan di tancapkan kemudian terobek pelan-pelan. Tidak peduli udah punya anak berapa, yang penting senang-senang.
Tidak peduli akan dosa sebesar apa, yang penting nafsu terpuaskan.
Tidak peduli dengan lingkungan sekitar, yang penting orang terdekat bisa bungkam.
Tidak peduli hubungan akan dibawa kemana, kalau ini memang bisa menguntungkan.

Bahkan gw gak habis pikir hal seperti itu kerap menjadi sebuah kebanggaan.

Gak punya otak, bukan...
Mereka yang melakukan itu pasti punya otak. Hanya saja cara kerjanya entah bagaimana.

Bahkan ketika emosi masih labil, tiada henti gw mengutuk orang yang berselingkuh, meski gw menjadi korban atau pun bukan.
Cuma rasa sakit hati mengetahui orang terdekat lo adalah korban dan pelaku bahkan terobek harga diri ini. Sakit..!

Gw benci perselingkuhan
Terutama perselingkuhan dalam sebuah pernikahan.

Bagaimana bisa menjalankan dua peran sekaligus dengan main kucing-kucingan. Bagiamana bisa membagi dua perasaan yang berbeda. Bagaimana bisa dengan tega merampas hak yang bukan seharusnya.

Demi tuhan, gak akan berkah seumur hidup.
Yang ada lo ancur telah merampas kebahagiaan orang lain, yang harusnya lebih berhak.

Inhale exhale..




Yang ngerasa lagi pacaran kemudian diselingkuhin aja dunia berasa kiamat.
Bagaiamana yang sudah menikah, tanggung jawabnya bukan hanya kepada sang pencipta, tapi kedua orang tua dan harus memikirkan anak.

Anak..

Iyaa anak..

Yang hanya terlintas dipikiran, tapi tidak betul-betul dipikirkan. Dan menjadi korban ke-ego-isan orang tuanya. 

Hanya demi memuaskan nafsu dari dosa.

Hal itu yang kadang membuat gw maju mundur ke-jurang dalam menghadapi pernikahan. Yang kemudian menimbulkan rasa takut akan mendapati pasangan yang akan berlaku hal seperti itu.

Maunya Selain dia tanggung jawab, pekerja keras dan harus setia.

Bahkan demi kemakan cinta, kata setia bisa jadi menjadi optional. Jelas-jelas pernah diselingkuhin, tapi  akan selalu ada kesempatan kedua, ketiga, keempat dst.

Semua hanya karena cinta.

Yang kadang bikin kita jadi tolol.

Menjatuhkan harga diri padahal udah dikoyak dan di injak karena diselingkuhi, masih saja tetap minta kembali.

Kan bego..

Yang udah tau di cuekin, terus sering ketawan flirting dan diselingkuhi. Tetep aja dikasih seratus kesempatan.

Dengan keyakinan bahwa setiap orang mampu berubah.
Entah menjadi lebih sadar atau tidak.


Kenapa sih harus berselingkuh?

Meski bukan melulu jadi korban, gw pun pernah menyelingkuhi pasangan.
Tapi, 
Ternyata benar adanya, apa yang kita tebar pasti kita akan menuainya.

Kemudian gw diselingkuhi lagi. Dan kenapa lagi-nya banyak banget. Padahal satu kali perlakuan tersebut bikin gw nyesel banget.

Diperlakukan buruk, bukan berarti harus menjadi buruk.
Itulah yang kemudian selalu ada dipikiran gw. Takut perlakuan khilaf kemarin hanya karena bentuk rupa balas dendam tak terlampiaskan.

Tuhan memang maha membolak-balikan hati.

Tidak ada yang boleh diberikan secara berlebihan kecuali hanya kepada-Nya. 

Tidak ada akhir yang baik dengan awal mula yang tidak baik.
Merampas hak yang bukan miliknya tentu menjadi kepuasan.
Tapi ingat, suatu apapun yang telah direbut dengan tidak baik
Kelak akan diambil kembali.


Setia itu emang mahal ya..




Entah, masih tersisa berapa pria lajang yang high quality setia-nya di muka bumi ini.


Label: